December 19, 2015

Apa itu label BPA-free? 🌱

Hi #SobatTumbler, tahukah kalian? BPA atau bisphenol-A merupakan zat kimia sintetis yang biasa digunakan pada beragam produk konsumer diantaranya tumbler dan botol bayi. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa ikatan BPA yang tergolong tidak stabil dapat menyebabkan sejumlah kecil zat kimia ini terlepas ke dalam makanan atau susu formula yang menjadi isi suatu kemasan yang mengandung BPA. Dan pada akhirnya lepasan BPA ini kemudian dapat tertelan oleh manusia. Pelepasan zat kimia ini akan terjadi semakin banyak saat botol terkena panas seperti saat direbus atau disterilisasi.
Para ilmuwan menyebutkan bahwa BPA dapat menjadi senyawa “pengganggu hormon” karena berpotensi mengganggu fungsi normal dari sistem hormon, baik itu pada manusia maupun pada hewan yang menimbulkan efek merugikan pada kesehatan, reproduksi, perkembangan, serta masalah tingkah laku (behavioural).
Peneliti dari University of Cincinnati menemukan, eksposur terhadap air mendidih menyebabkan botol plastik polikarbonat melepaskan BPA hingga 55 kali lebih cepat dari air dingin atau air bertemperatur normal. Penemuan terbaru menunjukkan bahwa ada korelasi antara BPA dengan penurunan produksi sperma, penambahan berat prostat, dan kanker testis pada laki-laki. Sementara pada perempuan, BPA berpotensi mengakibatkan ketidaknormalan perkembangan endometrium yang dapat menyebabkan infertilitas serta meningkatkan risiko terkena kanker payudara. Anak-anak, terutama bayi yang masih dalam kandungan dan bayi yang baru lahir, memiliki risiko yang paling besar terhadap bahan kimia tersebut. Hal ini disebabkan oleh ketidakseimbangan hormon yang dapat berdampak selama periode emas pertumbuhan anak, meskipun akibatnya tidak langsung tampak.
Untuk menghindari atau meminimalisir dampak BPA pada tubuh, spesialis anak Dr. Steven Parker, memberikan beberapa tips, diantaranya:
    1. Hindari penggunaan botol polikarbonat yang mengandung BPA. Sebagai gantinya gunakan botol bebas BPA, atau botol yang terbuat dari gelas/kaca.
    2. Ketika membeli botol plastik, pilihlah botol yang menggunakan polypropylene/polyethylene, yang tidak keras dan tidak mengkilat.
    3. Carilah tanda “BPA-free” pada kaleng atau botol susu yang Anda beli.
    4. Hindari pemberian teether berbahan plastik/vinyl pada bayi.
    5. Hindari memanaskan makanan dalam wadah plastik karena dapat memicu pelepasan BPA. Sebagai gantinya, gunakanlah wadah gelas/kaca atau keramik.
    6. Cucilah botol dan wadah plastik dengan spons agar tidak merusak lapisan plastiknya.
    7. Belajar membaca kandungan dalam plastik. Singkirkan produk plastik yang mengandung bahan-bahan seperti DBP dan DEP, DEHP, DMP. 
    8. Jangan gunakan lagi botol plastik yang sudah tergores/rusak atau kusam.
Botol yang mengandung zat BPA sebenarnya telah dilarang penggunaannya di negara-negara maju. Larangan yang diberlakukan ini lebih ditujukan pada pihak produsen, dan mencakup larangan untuk memproduksi botol susu dan peralatan makan yang mengandung BpA, serta larangan untuk menjual dan mengimpornya. Trus gimana di Indonesia? Menurut Husna Muzahir dari Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), di Indonesia belum ada lembaga berwenang yang melakukan uji toksisitas terhadap BPA. Departemen Kesehatan RI sekalipun belum mengatur secara khusus soal botol susu atau perlengkapan makan untuk anak. Namun ada yang namanya SNI (Standar Nasional Indonesia) yang menjelaskan soal potensi migrasi dari kemasan ke makanan atau minuman. Dalam peraturan itu dijelaskan bahwa untuk meminimalkan potensi migrasi tersebut, makanan atau minuman panas sebaiknya tidak bersentuhan langsung dengan kemasan tertentu, terutama yang terbuat dari plastik.

Tips : Sebaiknya tumbler digunakan dalam jangka 1 tahun tapi kalau sudah tidak baik lagi dalam 6 bulan botol sudah boleh diganti.

Sekiaan guys. Semoga bermanfaat! :)